Pentingnya SOP Touring

DSC_1121     

     Peningkatan jumlah kendaraan bermotor (sepeda motor) saat ini dibarengi dengan semakin banyaknya bermunculan komunitas/ klub-klub motor. Masyarakat pun mulai sering menjumpai iring-iringan/konvoi bermotor di jalan-jalan raya.
     Biasanya konvoi ini dalam rangka turing ato sekedar rolling-city (berkeliling di jalan-jalan kota usai kopdar/kopi darat). Keberadaan konvoi ini tak jarang menuai kritik atau ketidaksukaan dari masyarakat awam. Nah, dalam upaya meminimalisir ataupun menepis hal tersebut, ada yang namanya S.O.P (Standart Operating Procedure) dalam berkonvoi, baik ketika turing maupun rolling-city. Berikut poin-poin dalam S.O.P turing yang bisa dijadikan acuan bagi komunitas/klub:

Perencanaan.
     Merencanakan rute perjalanan dan logistik. Survey lokasi tentang situasi dan kondisi jalan menuju dan sesampainya di tempat tujuan juga perbekalan yang terdiri dari spare parts fast moving serta obat-obatan (P3K).

Persiapan.
     Meliputi persiapan kendaraan dan pengendaranya. Cek dan periksa kendaraan sebelum berangkat turing ada baiknya servis ke bengkel terpercaya. Jika sudah melakukan servis rutin bisa cukup dengan pemeriksaan sendiri. Cek juga kelengkapan surat-surat kendaraan (STNK dan SIM). Kesiapan pengendara tidak kalah penting mencakup safety gears dan kondisi fisik tubuh. Jika dalam keadaan tidak enak badan apalagi sakit lebih baik tidak memaksakan diri untuk ikut karena akan berimbas pada peserta turing yang lain.

Briefing.
     Perlu adanya pengarahan singkat (briefing) sebelum berangkat agar peserta turing bisa sejalan, satu pikiran dan tidak bingung nantinya pada saat group riding di jalan. Pengarahan tentang isyarat-isyarat, rute, lokasi dan waktu istirahat, mencatat nomor telepon/hp peserta, serta lama perjalanan.
     Supaya group riding tidak cerai-berai maka ditunjuklah para petugas/officer. Baku-nya petugas tersebut terdiri dari: Road captain/pemimpin rombongan, voorrijder/pengawal depan/pembuka jalan, road officer/pengawal captain dan blocker,  safety officer/pengawal rombongan dan sweeper, health officer/peserta yang membawa obat-obatan, technical officer/mekanik.
     Dalam prakteknya, ada beberapa petugas yang tidak perlu ada untuk dipilih. Yaitu road officer yang sebagai blocker. Karena blocker fungsinya menyetop kendaraan lain supaya berhenti dan mendahulukan rombongan turing. Kita sesama pengguna jalan, jadi tidak ada hak untuk didahulukan. Jika alasan karena takut ada rombongan yang tertinggal karena terputus maka cukup safety officer (sweeper belakang) yang nantinya akan mengkoordinasi.
     Idealnya dalam sebuah rombongan turing cukup ada road captain/pemimpin rombongan, voorrijder/pengawal depan/pembuka jalan, dan safety officer/pengawal rombongan dan sweeper (tengah dan belakang). Untuk health officer bisa secara individu peserta siap dengan P3K-nya sendiri. Sedang untuk technical officer/mekanik, jika memungkinkan saja karena pada dasarnya pasti ada peserta yang mengerti tentang motor yang hamper setiap hari dikendarai.

Pembagian grup.
     Jumlah peserta dalam sebuah grup/rombongan maksimal 12 peserta. Jika lebih dari 12 peserta maka dibagi menjadi beberapa grup antara 5-12 peserta. Setiap grup yang lebih dari 7 peserta harus memiliki satu safety officer yang berposisi ditengah dan menjaga barisan. Seorang road captain yang berpengalaman dan mengenal rute perjalanan harus ada di setiap grup.

Pemilihan peserta grup.
Posisi peserta, dua baris peserta berpengalaman berada di depan untuk memberi contoh kepada yang kurang berpangalaman menyusul dibelakangnya. Dalam setiap grup hendaknya ada peserta-peserta yang berpengalaman. Peserta yang berpengalaman dengan kecepatan lebih, ditempatkan dibelakang, karena 60km/jam motor dibarisan depan jika dibarisan belakang bisa menjadi 80km/jam, karena posisinya mengejar.

Isyarat-isyarat.
     Beberapa isyarat-isyarat dilakukan untuk memberi tanda supaya barisan terjaga dengan baik. Namun demikian isyarat-isyarat hanya dilakukan bilamana memungkinkan. Yang terpenting adalah posisikan diri dalam kondisi aman dulu.
     Intinya pemberian isyarat dilakukan tanpa menimbulkan kesan arogansi dan mengintimidasi pengguna jalan lain. Misal: menunjuk pengendara lain agar menyingkir, berdiri diatas motor sambil member isyarat pengendara dari arah berlawanan untuk menyingkir, mengangkat kaki seolah-olah ingin menendang pengguna jalan lain, member isyarat yang mengagetkan orang lain. Kondisi terbaru untuk isyarat dengan kaki ke kanan mulai dikurangi untuk kemudian tidak lagi dilakukan.

Formasi.
Ada tiga macam formasi dalam group riding turing, yaitu:

– Formasi 1 baris
Biasanya dilakukan pada saat kondisi jalan ramai/macet. Tidak jarang pula berlanjut ke formasi menyebar untuk bisa melewati kemacetan. Disini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para peserta untuk bisa melewati kondisi jalan yang macet dengan intuisi sendiri. Kemudian nantinya berkumpul kembali di titik yang telah ditentukan setelah kondisi jalan bebas dari kemacetan.
Formasi ini juga dilakukan bilamana kondisi jalan berbelok-belok atau sempit.

– Formasi 2 baris
Ketika dalam kondisi turing perjalanan jauh dan berkecepatan tinggi seringkali dilakukan formasi ini. Formasi berbentuk zig-zag satu-satu, untuk memberi ruang kesempatan mengerem lebih cukup ketika kondisi mendadak mengurangi kecepatan.

– Formasi parade
Berbentuk 2 baris berbanjar/parade. Biasa dilakukan ketika melewati jalan yang cukup ruang, dalam kondisi kecepatan sangat rendah
Dalam setiap formasi tersebut diatas, jarak antara motor dengan motor didepannya adalah 2 detik (lihat gambar ilustrasi). Untuk dapat menentukan jarak 2 detik, perhatikan motor didepan. Apabila motor didepan melewati sebuah tanda (garis atau bayangan pohon), mulai menghitung “dua ribu satu – dua ribu dua.” Jika tepat pada saat selesai mengucapkannya dan posisi sampai pada tanda tersebut, maka jarak mendekati 2 detik.

Istirahat.
     Idealnya dalam setiap turing disarankan setiap 2 jam berhenti untuk istirahat. Lokasi istirahat sudah ditentukan dan disampaikan pada saat briefing. Jika ditemui kondisi ada peserta yang memberi tanda minta berhenti karena mengantuk atau hal mendesak lainnya, disarankan pula untuk berhenti. Lamanya istirahat dikisaran 10-30 menit saja. Karena kelamaan istirahat juga bisa menimbulkan lelah dan kantuk berlebih.
Ketika akan melanjutkan perjalanan lagi setelah istirahat, yakinkan bahwa semua peserta telah siap dan utuh.

Peraturan dan Ketentuan.
     Menjaga perilaku pada saat berkendara dalam sebuah turing harus ditaati oleh seluruh peserta. Diantaranya:
– Dilarang melakukan aktivitas akrobatik selama perjalanan turing.
– Dilarang memprovokasi dan terprovokasi pengguna jalan lain.
– Dilarang melakukan aktivitas yang membahayakan pengguna jalan lain.
– Dilarang melakukan aktivitas yang tidak layak dilakukan sambil berkendara seperti merokok, makan, minum, dan ngobrol (dengan pengendara lain tanpa menggunakan fasilitas komunikasi jarak jauh/HT, berbicara dengan pengendara lain boleh dilakukan dalam keadaan berhenti).
– Dilarang menunjukkan aktifitas arogansi.
– Santun dalam berkendara.
– Menaati rambu-rambu lalu lintas.
     Sesuai dengan ketentuan kepolisian Negara Republik Indonesia, rombongan turing tidak di-izinkan menggunakan lampu strobo dan sirene. Kecuali telah mendapatkan izin dari pihak berwenang. Disamping karena penggunaan strobo dan sirene dapat memicu kesewenang-wenangan yang akhirnya menjadi sebuah sikap arogan bagi penggunanya.
Instruksi untuk berbelok kekiri atau kekanan menggunakan lampu sein, maka lampu flip-flop pada sein dapat menimbulkan kebingungan. Karenanya flip-flop pada sein tidak diperkenankan.

Review.
     Biasakan untuk selalu ada evaluasi setiap sebelum turing, saat turing (ketika istirahat)  dan setelah melakukan perjalanan turing. Gunanya adalah untuk menyempurnakan aktifitas turing selanjutnya.

     Dengan adanya S.O.P turing ini bukan untuk mempersulit peserta. Namun diharapkan akan tercipta keamanan dan kenyamanan berkendara baik untuk rombongan konvoi maupun pengguna jalan yang lain. Seorang yang sangat lihai pada saat single-riding belum tentu bisa lihai pada kondisi group-riding. Sebaliknya, seorang yang sudah lihai disaat group-riding maka bisa dipastikan akan lihai ketika single-riding.

Inilah pentingnya S.O.P turing. Selamat menerapkan di komunitas dan klub-nya masing-masing.
(sumber/referensi: Motorcycle Safety Foundation’s; “Sport Riding Techniques” by Nick Ienatsch; Pulsarian)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

dunia digital

teknologi digital untuk semua..

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

WIRO NyöbaMôtö

Belajar menulis dan mem-foto apa saja pas nongkrong atau Mblåkräck :)

Otoblogger Indonesia

Mari Ngobrol Tentang Otomotif

indomotoblog

One Stop Indonesian Motorcycle Blog

kDW Motoblog

All About Motorcycle News

tmcblog.com

Motorcycle News | New Product | Racing | Review |

Iwanbanaran.com

All About Automotif | Autonews | Discussion | Issue | Review | New product

jatimotoblog

Agregator blog jawa timur

setia1heri.com

Wis pokok e nulis Gan... :-D

PAGUYUBAN BeAT JAWA TIMUR

The Journey for ONE HEART Brotherhood

soerabajascoopycommunity

Just another WordPress.com site

Honda Cub Surabaya

Perkumpulan Penggemar Motor Honda C50,C70,C90 Surabaya

%d bloggers like this: